Bumi Rantau, Antara Tujuan dan Pilihan

Selamat datang bulan Maret yang dinanti-nanti. Selamat berjumpa kembali setelah beberapa bulan vakum ngeblog, hehe. Untuk mengawali posting bulan ini, saya mau cerita soal Goresan Manusia yang berubah menjadi Bumi Rantau.


image by: click

Berawal dari pertanyaan sederhana yang muncul saat di rumah, yang memberi kegalauan beberapa tahun silam. Dan berdampak pada ritme seseorang ini dalam beraktivitas. Maka setelah orang ini menemukan jawaban yang berdasar (hingga saat tulisan ini ditulis), dia (sementara ini) telah mengantongi pondasi yang dicari selama ini. Pondasi yang terus membuat dia kuat. Dan dalam proses menemukan 'jawaban' itu bukan hal instan. Mulai melihat dari 'luar' dan disadarkan di 'dalam'. Orang yang ndak tenang pasti berusaha cari ketenangan (antara akal dan hati).

Mari flashback beberapa waktu lalu (pertanyaan yang seharusnya muncul delapan tahun silam).

Sebenarnya kita bener-bener yakin ndak sih sama apa yang udah dilakuin selama ini? Tujuannya apa? Jangan-jangan sebenernya kita belum sepenuhnya yakin dengan apa yang kita 'yakini'. Seakan-akan kita punya tujuan, tapi tujuannya itu 'ngambang'. Saya ambil satu contoh, dalam pikiran saya soal 'bekerja' di masa anak-anak bahwa ketika orang 'bekerja' ya untuk 'cari' uang. Cari uang untuk apa? Untuk menafkahi keluarga, karena butuh makan, untuk hidup, dll. Sampai dirunut ke jawaban turunannya, tapi yang saya dapet apa? Jawabannya ya mbundhet di situ-situ aja. Belum menemukan jawaban yang bener-bener 'kuat'. Sebenernya apa sih? Itu baru pertanyaan seputar tujuan 'bekerja', belum yang lainnya karena hidup ini kompleks. Bukan berarti ketika belum menemukan jawaban, saya nyerah dengan tidak melanjutkan berbagai hal yang sudah dilakukan (yang dianggap punya tujuan). Prinsip awalnya ketika kita punya manfaat positif untuk sekitar, ndak ada alasan untuk berhenti melakukan hal yang sudah dilakukan. Baru sebatas itu, dan menurut saya kalo itu doang kayaknya masih ada sesuatu yang kurang. Pasti ada yang lebih lagi.

Entahlah, ada yang bilang saya suka mikirin hal ndak penting (bagi mereka). Ada yang bilang "Udahlah, begituan jangan terlalu dipikirin." Kalo Saya mah bodo amat dengan apa yang mereka bilang (dalam hal ini), Saya tetep mau cari tahu, hehe.

Dengan berjalannya waktu, sampai pada titik soal 'pilihan', pilihan bisa karena terpaksa atau bener-bener sadar dia milih. Saya memutuskan pakai kerudung kelas 11 (tahun kedua di bangku SMA), kenapa? Ya karena saya memaksa diri menjalankan kewajiban, ya karena saya Muslim. Kalo ndak sekarang (waktu itu), kapan lagi? Dan masih banyak pilihan-pilihan lain. Baru sebatas itu. Sebenernya masih terselubung pertanyaan-pertanyaan lain. Ini kalo saya masih lihat dari 'luar' sebelum saya melihat siapa jasad manusia ini sebenernya. Secara ketenangannya dapet, tapi saya mikirnya belum dapet benang merah yang menjembatani. Dan belum ketemu titik terangnya.

Selalu muncul pertanyaan 'Aku ki sopo?' Ini ada sedikit cerita, yang perlu digarisbawahi adalah soal 'pilihan' dan 'tujuan'.

1. Jika dirunut ke awal, saya mencoba menafsirkan istilah bahwa 'agama itu pondasi'. Oke, saat bayi  saya otomatis terlahir sebagai Muslim karena orang tua juga Muslim (istilahnya Muslim karena keturunan). Di sisi lain, enam agama yang diakui pemerintah yang ada di Indonesia beberapa di antaranya ada di keluarga besar saya. Tapi kenapa orang tua saya Muslim? Karena mereka 'memilih' Islam, kenapa beragama Islam? Karena terdapat dalam Al Quran, kenapa Al Quran? Ya karena kita Muslim, jawabannya muter begitu terus. Itu yang saya tanyakan ke orangtua. Tapi beliau-beliau belum menjawab pertanyaan yang bisa meyakinkan saya. Jangan-jangan mereka belum bener-bener yakin? Atau hanya menangkap sebatas merasa nyaman dan tentram tog, atau memang saya yang lelet dan bandel? Maksudku, masa cuma sebatas itu doang sih?

2. Baru setelah menginjak bangku kuliah, seperti membuka jendela baru. Pertanyaan yang muncul di umur 18 tahun yang mulai tenggelam, kemudian muncul lagi dua tahun kemudian. Di saat otak bener-bener jenuh, saat keadaan 'rumah' mulai nggak stabil (lagi). Bahkan, saat kemungkinan terburuk tepat di depan mata. Capek untuk mengkambinghitamkan keadaan (sisi buruk manusia ini). Sampailah di titik melihat siapa 'manusia' ini?

3. Mulai saat itu coba memetakan diri sendiri, karena selama ini liatnya keluar terus. Dalam artian, liat ke luar tapi belum nguatin dalemnya. Mungkin itu sebabnya dari dulu belum nemu jawaban. Kita gunakan istilah 'semua berawal dari diri sendiri'. Pertanyaannya: siapa aku? Jawabannya: manusia. Sebelum masuk cari tahu perkembangan peradaban manusia, simpelnya adalah menelusuri past-present-future kita. Logika sederhananya adalah handphone dibuat pasti ada tujuan dan kegunaannya. Untuk merawat atau menjaga barang tersebut dari kerusakan pasti ada buku panduannya, buku panduan mana nih yang bener? Kebenaran di mata Tuhan itu mutlak, temukan kebenaran dengan akal. Cari jawaban dengan sempurna. Karena kita punya bukti, maka muncul keyakinan.

4. The way to belief. Ndak semua yang kita ndak bisa lihat itu ndak ada. Bukan berarti manusia ndak bisa lihat lantas itu ndak ada. Dan akal sudah membuktikan sesuai kemampuannya. Tiga pertanyaan besar dalam hidup, past-present-future. Darimana asal manusia, apa tujuan hidupnya, akan ke mana setelah hidupnya. Adanya ciptaan pasti ada tujuan. Tadi kita ambil contoh handphonehandphone dibuat untuk jadi alat komunikasi. Ada manual instruction sebagai petunjuk penggunaan handphone. Kita butuh manual instruction yang tepat agar kita tahu bagaimana cara menjaga handphone tersebut agar tidak mudah rusak. Sama halnya dengan manusia, kita pun butuh manual instruction yang tepat.

5.Darimana asal manusia >> Pencipta, akal kita menuntun kita untuk berpikir. Ilmu pengetahuan sudah membuktikan bahwa alam semesta tidak terbentuk secara kebetulan. Dan ahli matematika pun sudah menghitung kemungkinan adanya Creator. Lalu kita akan ke mana setelah hidup >> kembali pada Tuhan, apa tujuan kita hidup >> 'beribadah' kepada Tuhan. 'Beribadah' bukan hanya mengenai 'ritual' hubungan vertikal saja tetapi juga horizontal. Bagaimana kita tahu itu tadi >> dari manual instruction, manual instruction yang mana >> Al Qur'an, kenapa Al Qur'an >> karena tidak ada yang bisa mendatangkan yang semacamnya. Istilahnya sekarang seperti sebuah 'kata pengantar' dalam buku, terdapat dalam Surat Al Baqarah ayat 2-5 dan diperkuat dalam ayat selanjutnya 23-24. Dalam Islam, Tuhan kita sebut sebagai Allah. Kita kemudian beriman karena kita lemah, karena Al Qur'an melemahkan kita. Al Qur'an diturunkan oleh Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Mu'jizat itu bukan artinya miracles, berasal dari kata 'ajaza yang artinya lemah. Mu'jizat itu yang membuat orang itu merasa lemah dihadapan Dia, Tuhan Pencipta (Allah). Mengapa manusia lemah? Karena manusia ndak bisa apa-apa. Karena itu manusia perlu Allah, Dia yang paling tahu tentang kelemahan manusia. Kita percaya diri karena kelemahan kita, lemah dihadapan-Nya. Al Qur'an adalah manual instruction yang bisa masuk akal. Satu-satunya cara Allah bolehkan untuk beriman adalah dengan berpikir, karena Islam memuliakan akal.

6.Kewajiban orangtua bukan memaksa anak mereka memeluk suatu agama, tetapi menuntun anaknya berpikir agar mereka tahu bahwa Tuhan benar-benar ada dan Tuhan mereka adalah Allah. Supaya mereka menemukan sendiri dengan akalnya, sehingga anak-anak akan menemukan sendiri bahwa Tuhan itu ada. Dan tahu mana manual instruction yang masuk akal.

Masih banyak hal yang perlu dijabarkan. Dari sedikit cerita di atas, kesimpulannya adalah kita pasti akan kembali ke kampung halaman yang sesungguhnya. Kita sekarang cuma merantau di bumi, cuma sementara. Ini adalah ladang buat bekal kita nanti pulang ke kampung halaman, dan pintu untuk menuju ke sana adalah kematian. Dan segalanya secara sadar atau tidak adalah soal TUJUAN dan PILIHAN. Jadi, seberapa jauh kita sudah menyiapkan bekal dari kita baligh hingga sekarang? Ingat, kita sudah punya dua modal penting sebagai bekal awal dari Tuhan saat turun ke bumi yaitu AKAL dan WAKTU. Satu hal yang saya takutkan adalah saya jadi gila, karena orang gila pasti kehilangan akal. Dan saat mereka hilang akal, mereka kehilangan Tuhan. Karena ndak bisa berpikir untuk mencapai Penciptanya.

Hal sederhana berawal dari yang rumit. Cuma reminder aja sih, buat cambuk tiap bangun tidur. Flash back 'kegalauan' beberapa tahun lalu. Muncul pertanyaan 'Apakah kita benar-benar sudah yakin dengan apa yang kita yakini?'
-save your mind and your heart for Creator.







0 komentar:

Posting Komentar

santideje. Diberdayakan oleh Blogger.

Majalah Terasolo Edisi 6 | Maret 2014

 

Happy Time :D


Get your own Digital Clock

about.me

Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini